NYIPOHACI: KETIKA KAIN BICARA TENTANG LEGOK DAN LELAKI PENENUN MATAHARI Melihat dari Dekat H. Ali Taba, Penjaga Api Batik di Kampung Kemuning Oleh : Edi Kusmaya



Legok, 2007. Di sebuah kampung yang bau tanahnya masih kental, seorang lelaki menatap pohon rambutan Parakan yang buahnya merah seperti doa. Di kepalanya, warna itu tak berhenti di lidah. Ia harus turun ke kain. Harus jadi motif. Harus jadi nama. Malam itu, Tangerang belum punya batik. Tapi di benak H. Ali Taba, batik Tangerang sudah lahir—lengkap dengan matahari yang ia sebut Nyipohaci.

Kabupaten Tangerang adalah Indonesia yang dipadatkan. Etnis bertemu, logat bertabrakan, dan nasib disulam jadi satu di pinggir Jakarta. Anehnya, selama 381 tahun sejak 1632, daerah selebar ini tak punya cap jempol di atas kain. Yang beredar di pasar hanya batik dari tanah Jawa. Sementara di Legok, di Desa Kemuning, seorang anak Dukuh yang lahir 10 Juni 1965 sedang tumbuh dengan dua darah: agamis dari surau, seniman dari dapur dan halaman.

Namanya H. Ali. Hobinya: bertualang. Ia menyusup ke pelosok, mencatat etnografi di buku lusuh, menonton topeng menari sampai subuh, mendengar rupa, musik, sastra, teater—semua ia lahap seperti orang lapar.

 


 

Bincang Ringan dengan H. Ali Taba, sosok sederhana – sarat pengalaman spiritual, namun pijakannya filosofis dan realistis tentang kehidupan. Tak pernah berhenti berinovasi, terus mewujudkan impiannya tentang batik di kampung halamannya.

 

 Jalan itu membawanya ke layar kaca. Bersama kawan-kawannya ia meracik tawa dan takut: Lenong Alternatif di TPI, Ekspedisi Alam Gaib di TV7, Ngelenong Nyok di Trans7, Ekspedisi Merah di ANTV, Ambulan Zig-Zag, Jejak-jejak Misterius, Komedi Betawi, hingga Jejak Sufi. Kamera merekam, tapi tangannya tetap gatal menulis. Seribuan naskah komedi dan dokumenter lahir, novel menyusul, jurnalistik ia tekuni. Semua profesi itu, katanya, cuma cara berbeda untuk satu hal: bercerita.Tahun 2013, surat dari Kementerian Dalam Negeri turun: setiap daerah wajib punya batik. Tangerang kalang kabut mencari wajah. Padahal di Legok, wajah itu sudah setengah jadi.

Sejak 2007 H. Ali menggambar Rambutan Parakan. Tahun 2010, garis itu ia celupkan ke malam, ke canting, ke kain. Lahirlah _NYIPOHACI_—nama lain Dewi Sri, dewi padi, dewi kesuburan, sebutan tua untuk matahari. Ia pilih nama itu karena filosofinya terang: penghidupan.

Batik, bagi dia, harus bisa jadi matahari kecil untuk perut warga. Maka berdirilah Kampung Batik Kemuning. Bukan pabrik. Padepokan. Di sana, ibu-ibu sekitar belajar menoreh malam. Anak muda diajari melihat bambu bukan sebagai pagar, tapi sebagai motif. Wareng, Kacang Tanah, Bambu, Rambutan Parakan—lima motif Tangerang lahir dari tangan yang dulu tak kenal canting.

 

 



 

Baginya batik adalah denyut nadi, dan nafas seni yang diimplementasikan dalam banyak hal, satu diantarana soal pemberdayaan masyarakat setempat

 

 

 

Beliau, kini ketua Balai Adat Kearifan Tangerang, tak mau jadi satu-satunya dalang. Ia ingin Kampung Budaya Kemuning jadi sekolah, jadi dapur, jadi pasar.

Motif Rambutan Parakan dan merek NYIPOHACI sudah dipatenkan sejak 10 tahun lalu. Tapi yang lebih penting dari kertas paten adalah dapur-dapur yang tetap ngebul. Karena setiap lembar batik yang terjual, ada upah yang pulang ke rumah di Legok. Ada anak yang bisa beli buku. Ada warisan yang tak berhenti di museum.

Senja di Kemuning jatuh pelan di atas jemuran kain. Warna-warna Rambutan Parakan bergoyang ditiup angin, seperti ingatan yang menolak dilupakan. H. Ali Taba berdiri di antaranya—bukan sebagai pemilik, tapi penjaga. Tempo doeloe Tangerang tak punya batik. Kini ia punya matahari yang bisa dilipat, dimasukkan ke koper, dan dibawa pulang sebagai cerita.

 


 Brand yang lahir melalui proses Panjang, dalam perenungan, dalam perjalanan karya dan dalam visualisasi yang penuh makna dalam seni dan karya anak bangsa

 

 

Selama Nyipohaci masih terbit dari canting di Legok, selama itu pula penghidupan akan terus tumbuh: dari kain, untuk manusia, oleh tangan yang percaya bahwa budaya bukan untuk dipajang, tapi untuk mengenyangkan rasa, memenuhi ruang batin dan jangan remehkan kearipan local sebagai pondasi kekuatan yang tidak hanya harus dipertahankan, lebih dari itu HARUS DIKEMBANGKAN.

 


EDI KUSMAYA

Anak Pantai Selatan, Guru, Jurnalis dan Penjaga Aksara

Dari Sukaresik Pangandaran ke Meja Redaksi Tangerang: Menulis adalah jiwa. Lahir di Kota Wisata Pangandaran, Ciamis, ketika ombak Samudra Hindia bergemuruh. Anak seorang petani yang juga seniman. Maka tak heran jika darahnya asin sekaligus artistik: asin oleh laut, artistik oleh canting kata yang diwariskan ayahnya.

Masa kecil tumbuh tepat di bibir pantai yang mengajarkannya satu hal: hidup harus seluas cakrawala, dan tulisan harus sedalam palung.

Baginya, belajar itu seperti ombak: tak boleh berhenti. Ruang kelas baginya cuma pindah alamat; muridnya tetap sama: manusia yang haus tahu.Tinta dan Lapangan

Sejak 1989, namanya tak asing di koran. Artikel pendidikan, sosial, seni-budaya ia kirim ke Bandung Pos, Mingguan Pelajar, Fajar Banten, Gala Media, Tangerang News. Majalah pun ia isi: Suara Daerah PGRI Jabar, Bhineka Karya Winaya Jabar, Visi Diktentis, Warta Plus. Ia mantan wartawan Sunda Pos Giwangkara, kini nahkoda sebagai Pimpinan Redaksi Tabloid Cakra Banten. Meja redaksinya bukan menara gading—ia turun jadi narasumber, fasilitator, juri lomba PNF dari tingkat kabupaten sampai provinsi.

Baginya, sekolah tak harus berdinding tembok. Ia pernah menakhodai Forum Pamong Belajar Indonesia Banten 2006–2011, duduk di Forum ITI Banten, anggota Korgoro Kabupaten Tangerang, dan kini dipercaya sebagai ketua Divisi Publikasi, Media dan Arsip di Dewan Kesenian Kabupaten Tangerang (DKKT).

Lomba-lomba ia datangi bukan untuk gaya. Ia bawa pulang Juara III Lomba Karya Tulis Ilmiah PMI Tingkat Nasional, Juara II LKTIl BKKBN Jawa Barat, menjuarai lomba esai versi Koran Pendidikan Kabupaten Tangerang, dan puncaknya: Juara 1 Lomba Menulis Essay Tingkat Provinsi Banten 2015. Semua ia capai sambil tetap jadi bapak dari dua anak yang kini beranjak dewasa.

Kini ia tinggal di Perum Citra Raya Graha Gardenia I XG 16 No. 28B, Mekar Bakti, Panongan, Tangerang. Tapi alamat sejatinya ada di setiap paragraf yang ia tulis. Dari desa Sukaresik ke Tangerang, dari pantai ke tinta, Edi Kusmaya membuktikan: laut boleh jauh, tapi pulang selalu bisa lewat tulisan.


Komentar